Rabu, 02 November 2011

LAPORAN MAGANG ”BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias sp.)”


LAPORAN MAGANG
”BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias sp.)”
Kelompok Minatani di Desa Sumur bandung Kp. Saradan RT 015/002
Kec. Jayanti Kab. Tangerang.

 


                                                                          


DI SUSUN OLEH
Semester IV.A
Team Budidaya :

                                     1.    Adelaide M.U                              (4443090564)
                                     2.    Ida Nurlaela sari                         (4443090566)
                                     3.    Nur Haryanti                               (4443090768) 
                                     4.    Mega mawarni                             (4443091412)
                                     5.    Siti Lulu A.M                               (4443091070)
                                     6.    Dedi hermansyah                         (4443091366)
                                     7.    Wahyu widiyanto                         (4443090645)
                                     8.    M. Isep Nur hamid                       (4443090747)

PERIKANAN/FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
                              2011
KATA PENGANTAR


Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kita kesehatan jasmani maupun rohani. Tak lupa shalawat serta salam kita junjungkan kepada nabi besar Muhammad SAW. karena dialah merupakan satu-satunya suri tauladan terbaik yang harus kita contoh sampai dengan zaman sekarang ini.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen jurusan perikanan yaitu Bapak Forcep rio indaryanto S.pi yang telah mengarahkan kami untuk magang mengenai budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) di Desa Sumur bandung Kp. Saradan RT 015/002 Kec. Jayanti Kab. Tangerang. Selama 12 hari mulai dari tanggal 1 sampai tanggal 12 februari 2011 selama mengisi waktu liburan semester III dan juga kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Suryanah selaku ketua kelompok Minatani yang sudah memberikan pembelajaran budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
Alhamdulilah laopran magang ini dapat terselesaikan. Dalam melaksanakan dan menyusun laopran ini kami banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada laporan ini, penyusun berusaha mengungkapkan mengenai kegiatan magang budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.). Kami menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik bentuk, isi dan penyusunannya, Dengan senang hati kami menerima saran dan kritikan yang bersifat membangun dan diharapkan dapat memberi manfaat bagi pembaca terutama mahasiswa/mahasiswi Universitas Sultan AgengTtirtayasa Fakultas Pertanian jurusan Perikanan.


Serang, 18 Maret 2011
PENYUSUN




DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ..................................................................................  i
DAFTAR ISI .................................................................................................  ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang ...............................................................................  1
1.1.1        Pengertian kelompok ................................................  .......  1
1.1.2        Kelompok Minatani ...........................................................  5
1.2.  Tujuan .............................................................................................  11
1.3.  Waktu dan tempat ..........................................................................  11

BAB II PEMBAHASAN
2.1.      Deskripsi ikan lele sangkuriang (Clarias sp.).................................. 12
2.2.      Budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)................................. 14
2.3.      Kebijakan pengembangan usaha budidaya
ikan lele sangkuriang (Clarias sp.).................................................. 16
2.4.      Manajemen pembenihan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.).......... 18
2.5.      Teknik pembenihan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)................. 20
2.6.      Penggunaan pakan yang tepat untuk efesiensi biaya

produksi budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)................... 29

2.7.      Manajemen kesehatan ikan dan lingkungan................................... 32
2.8.      Penyakit pada ikan lele (Clarias sp.).............................................. 34
2.9.      Analisa usaha ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)........................... 37

BAB III KEGIATAN MAGANG KEPADA KELOMPOK MINATANI (Ibu Suryanah) BUDIDAYA IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.)
3.1.      Pembelajaran persyaratan lokasi/dasar kolam................................. 39
3.2.      Kegiatan pemberian pakan ............................................................  42
3.3.      Kegiatan pemanenan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) ..............  44
3.4.      Analisa usaha budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)  47
3.5.      Materi dan praktek teknik pemijahan ikan lele
sangkuriang (Clarias sp.) ...............................................................  49

BAB IV PENUTUP
4.1.      Kesimpulan .................................................................................... 64
4.2.      Saran .............................................................................................. 65

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................  iv






















BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1.      Latar belakang

Beberapa waktu yang lalu selama mengisi liburan semester III (ganjil). Kami mengadakan kegiatan magang yang tergabung dalam team budidaya di Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kelompok kami mendapatkan tempat untuk magang pada Kelompok Minatani Budidaya Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.).

1.1.1.      Pengertian kelompok

Menurut Wekley dan Yulk (1977) mengemukakan bahwa kelompok merupakan suatu kumpulan orang yang berinteraksi satu sama lain secara teratur dalam suatu periode tertentu, dan merasakan adanya ketergantungan diantara mereka dalam rangka mencapai satu atau lebih tujuan bersama.

Faktor-faktor pembentuk kelompok :

a.  Kedekatan

Pengaruh tingkat kedekatan, atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal. Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan.
b.  Kesamaan
Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga kesamaan di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang leih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter-karakter personal lain. Kesamaan juga merupakan faktor utama dalam memilih calon pasangan untuk membentuk kelompok sosial yang disebut keluarga.
c.  Pembentukan norma kelompok
Perilaku kelompok, sebagaimana semua perilaku sosial, sangat dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku dalam kelompok itu. Sebagaimana dalam dunia sosial pada umumnya, kegiatan dalam kelompok tidak muncul secara acak. Setiap kelompok memiliki suatu pandangan tentang perilaku mana yang dianggap pantas untuk dijalankan para anggotanya, dan norma-norma ini mengarahkan interaksi kelompok.
d.  Waktu dan zaman
Kelompok itu tidak terbentuk dengan sendiri tetapi ada suatu proses di dalamnya dan mengalami modifikasi dari waktu ke waktu sehingga terbentuklah suatu kelompok yang kongkrit dalam hal itu terbentuknya suatu kelompok membutuhkan waktu yang tidaklah sebentar.
e.  Sebab dan tujuan
Kelompok itu tidaklah mungkin terbentuk tanpa adanya suatu tujuan tertentu, sehingga tujuan dari kelompok itu menjadi dasar terbentuknya kelompok tersebut dan juga mungkin menjadi simbol dari kelompok itu. Ex: Bonek terbentuk dengan tujuan supaya permainan bola persebaya di lapangan baik.
f.  Sifat dari anggota kelompok
Karena kesamaan sifat dari anggota kelompok itulah kelompok terbentuk.Kelompok terbentuk dari kesamaan sifat, minat dan tujuan yang sama dari banyak individu yang ingin mencari orang yang memiliki sifat yang sama, sehingga dapat berkomunikasi dengan lancar dengan orang yang sepandangan dengan dirinya dengan tujuan mendapatkan interaksi yang sesuai dengan dengan apa yang diinginannya. Dikatakan demikian karena di dalam kelompok itu terdapat suatu ikatan serta tujuan yang menyebabkan si individu tersebut tidak merasa sendirian, karena ternyata masih banyak orang yang mempunyai suatu pola pikir yang sama, sehingga si individu tersebut tidak merasa minder dengan apa yang dia miliki sekarang karena ada kelompok yang mewadahinya ex: perkumpulan gay dan lesby Indonesia

Cara pembentukan kelompok :
Terbentuknya kelompok itu memang tidak semuanya sama, ada yang secara kebetulan ,paksaan maupun sukarela.Karena semua itu tergantung dari situasi dan kondisi kelompok tersebut. Memang pembentukan kelompok itu diawali dengan adanya presepsi ,perasaan atau motivasi dan tujuan yang sama dalam memenuhi kebutuhannya, karena hal itu merupakan suatu proses dasar dari terbentuknya suatu kelompok. Pembentukan kelompok diawali dengan adanya suatu perassan atau presepsi yang sama dalam memenuhi suatu kebutuhan. Setelah itu akan timbul suatu motivasai untuk memenuhinya, sehingga ditemukannya suatu tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi membentuk suatu kelompok .
Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan masing-masing kedudukan anggotanya (siapa yang menjadi anggota dan ketua). Pada interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan yang lainnya sehingga timbul suatu perpecahan (konflik). Perpecahan yang terjadi biasanya bersifat sementara karena adanya kesadaran pentingnya arti dari suatu kelompok tersebut, sehingga anggota kelompokberusaha menyesuakan diri demi kepentingan bersama. Dan pada akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.

Jenis dan fungsi Kelompok :
Jenis-jenis Kelompok dapat dibedakan berdasarkan klasifikasinya. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, maka ada jenis kelompok formal dan kelompok non-formal.
Kelompok formal adalah sub unit sah dari organisasi yang telah ditetapkan oleh anggaran dasar atau suatu ketetapan management. Jadi kelompok ini sengaja dibentuk untuk memenuhi tugas yang nyata guna mendukung tugas organisasi.
Kelompok non-formal adalah kelompok yang muncul sebagai upaya pemenuhan kebutuhan individu dengan mengembangkan tata hubungan dengan anggota lain dalam organisasi. Kelompok informal hanya dapat terbentuk apabila lokasi fisik anggota-anggotanya, sifat pekerjaan, dan jadwal kerja memungkinkan untuk terbentuknya kelompok. Oleh karena itu kelompok informal muncul dari kombinasi antara faktor-faktor formal dan kebutuhan manusia sebagai anggotanya.

Fungsi-fungsi Kelompok :
Pada dasarnya fungsi kelompok dibagi menjadi dua yaitu, fungsi organisasi formal dan fungsi kebutuhan individual. Fungsi kelompok formal sebagai sarana untuk mengerjakan tugas-tugas yang kompleks yang saling berkaitan dan terlalu sukar untuk dikerjakan oleh siapapun, sebagai sarana untuk mencetuskan gagasan-gagasan yang baru atau pemecahan masalah yang memerlukan kreativitas tertentu, dan sebagai wahana sosialisasi serta pelaksanaan keputusan yang rumit.
Fungsi kelompok individual yang didasarkan bahwa setiap individu memiliki beraneka macam kebutuhan, dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan yang meliputi pemenuhan kebutuhan persahabatan, dukungan, dan kasih sayang, sebagai sarana untuk mengembangkan, meningkatkan, dan menegaskan rasa identitas dan memelihara harga diri, sebagai sarana untuk menguji kenyataan sosial melalui diskusi dengan orang lain, pengembangan perspektif, dan konsensus bersama yang dapat mengurangi keragu-raguan dalam lingkungan sosial sehingga dapat diambil sebuah keputusan.

1.1.2.      Kelompok Minatani

Kelompok minatani merupakan kelompok pembudidaya ikan air tawar khususnya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) atau POKDAKAN yang asal mulannya terbentuk kelompok ini dimulai dari setiap masing-masing wilayah di Kab. Tangerang yang mempunyai usaha membudidayakan ikan air tawar untuk membuat kelompok supaya Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dapat mudah memperoleh data siapa-siapa saja yang mempunyai usaha tersebut dan juga untuk memudahkan setiap petani dalam memperoleh informasi tentang bagaimana cara budidaya yang baik dan benar serta hal-hal yang lain yang terkait dalam pelaksanaan budidaya ikan.

 

Profil Kelompok Budidaya Ikan Lele Sankuriang (Clarias sp.)

POKDAKAN MINATANI

Nama kelompok             : Minatani

Alamat                           : Desa Sumur bandung Kp. Saradan RT 015/002      Kec. Jayanti Kab. Tangerang.

Nama ketua                    :  Ny. Suryanah

Sekretaris                       :  Payumi

Bendahara                      :  Suparman

Anggota                         : 15 Orang

Tahun berdiri                  :  2007

Kelas kelompok             :   Kelas pemula tahun 2007

                Kelas lanjut tahun 2010

Prestasi                           : Juara I POKDAKAN tingkat Kabupaten  Tangerang tahun 2009

Juara II lomba POKDAKAN tingkat Provinsi Banten tahun 2009

Peserta lomba POKDAKAN tingkat nasional mewakili Provinsi Banten tahun 2010

 

 

 

 

 

 

 

STRUKTUR ORGANISASI

PEMBUDIDAYA ”IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.)”

 

 

 

 

 


                                                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PEMBAGIAN TUGAS :

1.      Tugas ketua

·         Bertanggung jawab terhadap maju mundurnya kelompok

·         Menandatangani surat-surat penting

·         Mewakili kelompok dihadapan pengadilan

·         Bertanggung jawab kedalam dan keluar kelompok

·         Mewakili kelompok dalam hubungan dengan pihak luar

·         Memimpin rapat dan musyawarah

2.      Tugas sekretaris

·         Mengelola administrasi kelompok

·         Menjadi notulen rapat

·         Membantu ketua menyusun rencana kerja kelompok

·         Mewakili ketua berhubungan dengan pihak luar

·         Memimpin rapat atas seizin ketua

3.      Tugas bendahara

·         Membantu ketua dalam mengelola keuangan

·         Memegang buku kas dan administrasi keuangan lainnya

·         Mencatat pemasukan dan pengeluaran uang

·         Memegang buku inventaris

·         Mencatat pemasukan dan pengeluaran barang

·         Menandatangani surat-surat penting atas seizinatau sepengetahuan ketua

4.      Tugas seksi-seksi

a.       Sie Pemasaran

·         Mencari informasi pasar

·         Membantu ketua mempersiapkan kontrak jual beli

·         Membantu ketua menyusun analisis ekonomi usaha budidaya ikan

·         Mengadakan negosiasi denganpihak pembeli atas seizin dan sepengetahuan ketua

b.      Sie. Peralatan (sarana dan prasarana)

·         Membantu ketua dalam mengelola saran produksi dengan prinsip tepat harga, tepat mutu dan tepat waktu

·         Membantu ketua dalam menata, menyimpan dan menata letak sarana dan prasarana

·         Membantu ketua dalam menyiapkan kontrak jual beli sarana produksi

·         Atas seizin ketua mengadakan negosiasi dengan pihak penjual saran

c.       Sie. Teknisi (bidang teknis)

·         Mencari informasi tekhnologi budidaya terbaru

·         Melatih keterampilan teknis anggota

·         Atas seizin ketua menghadiri pelatihan yang dilaksankan Dinas atau pihak lain

·         Mengadakan uji coba atau kaji terap tekhnologi atau iovasi baru

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. layout bangunan dan unit usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.)

Daftar Anggota Aktif Budidaya Ikan Lele Sangkriang (Clarias sp.)

No

Nama

Jenis

Budidaya

Luas area

1

Suryanah

Pembesaran

2000    m2

2

Suparman

Pembesaran

2000    m2

3

Payumi

Pembesaran

200      m2

4

Suleman sare

Pembesaran

800      m2

65

H. M. Zen

Pembesaran

200      m2

7

H. Jasman

Pembesaran

250      m2

8

Juli

Pembesaran

250      m2

9

Smsuri

Pembesaran

150      m2

10

Ohim

Pembesaran

500      m2

11

Mastu

Pembesaran

1000    m2

12

Muslini

Pembesaran

250      m2

13

Muhi

Pembesaran

800      m2

14

Ayakub

Pembesaran

300      m2

15

Halil

Pembesaran

200      m2

16

Suhedi

Pembesaran

200      m2

 

1.2.      Tujuan

Dalam kegiatan magang yang dilakukan oleh team budidaya Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas sultan Ageng Tirtayasa yang dilaksanakan selama liburan semester III kepada kelompok Minatani Budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) mempunyai beberapa tujuan yaitu diantarannya :

a.    Mengetahui kondisi lingkungan perairan dan kolam tempat budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
b.    Mengetahui kegitan-kegiatan yang dilakukan dalam budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
c.    Mengetahui manajemen dalam pengelolaan budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)

1.3.      Waktu dan tempat

Kegiatan magang yang dilakukan oleh team budidaya Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas sultan Ageng Tirtayasa dilaksanakan selama liburan semester III kepada kelompok Minatani Budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) di Desa Sumur bandung Kp. Saradan RT 015/002 Kec. Jayanti Kab. Tangerang. Selama 12 hari mulai dari tanggal 1 sampai tanggal 12 februari 2011.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB II
PEMBAHASAN


2.1.   Deskripsi ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
Menurut Anonimus (2005) secara umum morfologi ikan lele sangkuriang tidak memiliki banyak perbedaan dengan lele dumbo yang selama ini banyak dibudidayakan. Hal tersebut dikarenakan lele sangkuriang sendiri merupakan hasil silang dari induk lele dumbo. Tubuh ikan lele sangkuriang mempunyai bentuk tubuh memanjang, berkulit licin, berlendir, dan tidak bersisik. Bentuk kepala menggepeng (depress), dengan mulut yang relatif lebar, mempunyai empat pasang sungut. Lele Sangkuriang memiliki tiga sirip tunggal, yakni sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur. Sementara itu, sirip yang yang berpasangan ada dua yakni sirip dada dan sirip perut. Pada sirip dada (pina thoracalis) dijumpai sepasang patil atau duri keras yang dapat digunakan untuk mempertahankan diri dan kadang-kadang dapat dipakai untuk berjalan dipermukaan tanah atau pematang. Pada bagian atas ruangan rongga insang terdapat alat pernapasan tambahan (organ arborescent), bentuknya seperti batang pohon yang penuh dengan kapiler-kapiler darah.


 










Gambar 2. Ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
Lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik (back cross) antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Kemudian menghasilkan jantan dan betina F2-6. Jantan F2-6 selanjutnya dikawinkan dengan betina generasi kedua (F2) sehingga menghasilkan lele sangkuriang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1. Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi dari Afrika ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi (Anonimus, 2007).
Meskipun induk awal lele sangkuriang berasal dari ikan lele dumbo, antara keduanya tetap memiliki perbedaan. Lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetika lele dumbo melalui silang balik (backcross). Sehingga klasifikasinya menurut Lukito (2002) sama dengan lele dumbo yakni:
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Kelas                  : Pisces
Subkelas             : Teleostei
Ordo                   : Ostariophysi
Subordo             : Siluroidea
Famili                 : Clariidae
Genus                 : Clarias
Spesies               : Clarias sp.

Habitat ikan lele sangkuriang dapat hidup di lingkungan yang kualitas airnya sangat jelek. Kualitas air yang baik untuk pertumbuhan yaitu kandungan O2 6 ppm, CO2 kurang dari 12 ppm, suhu (24 – 26) o C, pH (6 – 7), NH3 kurang dari 1 ppm dan daya tembus matahari ke dalam air maksimum 30 cm (Lukito, 2002).
Tingkah laku Ikan lele dikenal aktif pada malam hari (nokturnal). Pada siang hari, ikan lele lebih suka berdiam didalam lubang atau tempat yang tenang dan aliran air tidak terlalu deras. Ikan lele mempunyai kebiasaan mengaduk-aduk lumpur dasar untuk mencari binatang-binatang kecil (bentos) yang terletak di dasar perairan (Simanjutak, 1989 ).

2.2.   Budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara luas oleh masyarakat terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah. Budidaya lele sangkuriang (Clarias sp) mulai berkembang sejak tahun 2004, setelah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, dengan Nomor Kepmen KP 26/Men/2004. Teknik budidaya lele sangkuriang tidak berbeda dengan lele dumbo, mulai dari pembenihan sampai pembesaran.
Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit. Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah.
Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele “Sangkuriang”.
Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, lele sangkuriang dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Keunggulan dari lele sangkuriang ini diantaranya dapat dipijahkan sepanjang tahun, fekunditas telur yang tinggi, dapat hidup pada kondisi air yang marjinal dan efisiensi terhadap pakan yang tinggi.
Produksi di Indonesia meningkat tajam tiap tahun, selama lima tahun terakhir, antara lain karena luasnya pasar bagi lele. Lele disukai konsumen karena berdaging lunak, sedikit tulang, tidak berduri, dan murah. Dari sisi budidaya, lele relatif tidak memerlukan banyak perawatan dan memiliki masa tunggu panen yang singkat. Pengolahan yang paling populer adalah dengan digoreng, dan disajikan sebagai pecel lele. Bentuk pengolahan lain adalah dengan diberi bumbu mangut (mangut lele).
Produksi lele budidaya di Indonesia
Tahun
Jumlah produksi dalam ton
2004
51.271
2005
69.386
2006
77.272
2007
91.735
2008
108.200
Tabel 1 : Produksi lele budidaya di Indonesia

2.3.   Kebijakan pengembangan usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.)
Perikanan budidaya mempunyai potensi sangat besar dalam penyerapan tenaga kerja (pro-job) dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat pedesaan sampai perkotaan. Selain itu dapat menghasilkan margin keuntungan yang cukup besar, mempunyai keterkaitan usaha yang cukup luas, mengatasi kemiskinan, tekhnologi terseia dan beragam serta produk ekspor dan konsumsi dalam negeri. pengurangan kemiskinan (pro-poor), dan pertumbuhan ekonomi (pro-growth).  
Program kebijakan umum Dpartement kelautan dan perikanan mengenai pegendalian penangkapan, pengembangan budidaya dan peningkatan nilai tambah perikanan diantaranya yaitu pendekatan kebijakan, peningkatan produksi perikanan budidaya untuk ekspor, peningkatan produksi perikanan budidaya untuk konsumsi ikan masyarakat (PROKSIMAS) dan perlindungan serta rehabilitasi sumberdaya perikanan budidaya (PROLINDA).
a.   Pendekatan kebijakan yang dilakukan diantaranya yaitu :
1.      Pengembangan kawasan. Dengan maksud mendorong penerapan manajemen hamparan untuk mencapai skala ekonomi, mencegah penyebaran penyakit, meningkatkan efesiensi dalam penggunaan air, sekaligus mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan sarana produksi, proses produksi, pemasaran hasil dan pengolahan lingkungan dalam suatu kesisteman yang mapan.
2.      pengembangan komoditas unggulan. Dengan maksud untuk lebih memacu pengembangan komoditas yang memiliki kriteria bernilai ekonomis tinggi, tekhnologi tersedia, permintaan pasar besar dan dapat dikembangkan secara masal.
3.      pengembangan usaha. Dengan maksud agar seluruh usaha perikanan budidaya dilakukan dengan menggunakan prinsip bisnis secara profesional dan berkembang dalam suatu kemitraan usaha yang saling memperkuat dan menghidupi.
b. Strategi pengembangan usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.)   diantaranya :
1.      Pengembangan kawasan pembudidayaan secara bertahap
2.      penerapan tekhnologi berkelanjutan
3.      pengembangan segmentasi produksi
4.      penyediaan induk unggul dan benih berkualitas
5.      dukungan dana penguatan modal
6.      pembinaan intensif
7.      pendekatan akuabisnis
c.   Potensi kawasan usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.)
·         Pekarangan rumah, umumnya berupa lahan marginal dengan wadah berupa kolam plastik, kolam tembok.
·         Persawahan, memungkinkan dalam hamparan luas dengan wadah berupa kolam tanah.
·         Perairan umum, yaitu sungai, waduk, saluran dengan wadah berupa keramba, KHA, KAI.
d.   Pendekatan akuabisnis antara lain :
·         Bisnis kemitraan : win-win solution
·         Akses permodalan pada perbankan
·         Usaha dengan nilai tambah dengan rintisan ekspor, misalnya berbagai bentuk produk olahan
·         Backward and foreward lingkage
Selain upaya-upaya yang terdapat pada pernytaan diatas terdapat upaya yang harus dilakukan yaitu mengenai dana penguatan modal dengan tujuan untuk mendorong keberpihakan sektor perbankan kepada masyarakat pembudidaya ikan skala kecil. Langkah yang ditempuh yaitu berkerjasama dengan bank-bank swasta atau daerah untuk mengarahkan pemanfaatan dana penguatan modal (DPM) kelompok pembudidaya ikan (POKDAKAN) sebagai dana penjaminan di bank.
Selanjutnya yaitu Pembinaan intensif dengan cara penetapan penanggung jawab tingkay pusat, provinsi dan kabupaten/kota, pembinaan kelembagaan UPP (lembaga pemberdayaan usaha kelompok pembudiaya ikan) & POKDAKAN dan pendampingan tekhnologi oleh UPT & TPT (tenaga pendamping tekhnologi) serta pelatihan, temu usaha, monitoring dan evaluasi.
Indikator keberhasilannya meliputi terbangunnya kawasan usaha budidaya ikan lele yang berkelanjutan, berkembanganya kelembagaan UPP dan POKDAKAN yang bankable, terwujudnya usaha bersama dengan kemitraan yang setara, meningkatnya pendapatan dan devisa, database produksi, pembudidaya, kelompok dan profil UPP.

2.4.   Manajemen pembenihan ikan lele (Clarias sp.)
Manajemen adalah proses mengoordinasikan dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar deselesaikan secara efisien dan efektif dengan melalui orang lain. Fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan. Dan untuk mencapai tujuan organisasi dan tujuan pribadi dalam menjaga keseimbangan diantara berbagai tujuan yang saling bertentangan diantara para stakeholder organisasi serta mencapai efesinsi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. dan efektifitas yaitu kemampuan untuk menentukan tujuan yang tepat atau kemampuan untuk melakuakan pekerjaan yang benar. serta produktivias yakni ukuran kuantitas dan kualitas prestasi kerja dengan mempertimbangkan pula kemampuan pemanfaatan sumberdaya. Dengan kata lain produktivitas merupakan keselarasan atau keseimbangan antara efektivitas dan efesiensi.
Pada dasarnya semua kegiatan telah/memerlukan penerapan fungsi-fungsi manajemen begitu halnya dengan usaha pembenihan dan pendederan ikan lele (Clarias sp.)
a.       Dasar keterampilan manajemen :
·         Ketermapilan teknis merupakan paduan antara pendidikan da pengalaman pembenihan dan pendederan ikan lele
·         Keterapilan hubungan manusia yaitu bekerjasama dengan orang lain
·         Keterampilan konseptual yaitu mampu memperkirakan situasi kedepan, terutama peluang pasar yang baru.
·         Keterampilan pembuatan keputusan yakni mampu menentukan dan menyeleksi tindakan yang terbaik.
b.      Strategi pengembangan
·         Pengembangan kawasan budidaya secara bertahap
·         Pengembangan segmentasi produksi
·         Penerapan tekhnologi berlanjutan
·         Penyediaan induk unggul dan benih berkualitas
·         Dukungan DPM/perbankan
·         Pengembangan serifikasi unit usaha budidaya
·         Pendekatan akuabisnis
c.       Pendekatan akuabisnis
·         Pengembangan segmentasi usaha
·         Pembagian keuntungan secara proporsional disetiap segmen usaha
·         Pengelolaan sumberdaya dari hulu ke hilir
d.      Kelayakan dalam usaha
1.      kelayakan teknis diantaranya : tersediannya paket tekhnologi pembenihan lele yang telah mapan, tersediannya potensi sumber daya manusia yang memiliki kemampua dalam pembenihan lele, dan tersediannya sarana dan prasarana yang memadai.
2.      kelayakan ekonomis diantaranya : trsediannya jaminan pasar dan terjaminnya kepastian harga yang menguntungkan.
3.      kelayakan sosial diantaranya : ikan lele merupakan komoditi yang digemari oleh masyarakat, tumbuhnya image positif tentang komoditi lele, dan tidak ada paham/kepercayaan masyarakat yang tabu terhadap ikan lele

2.5.   Teknik pembenihan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
a.       Pemeliharaan induk
Faktor penting dalam pembenihan ikan lele sangkuriang yaitu kualitas induk yang akan dipijahkan. Kualitas induk yang baik dapat dilihat dari postur tubuh yang proporsional, tidak ada cacat dan luka pada tubuh ikan, serta gerakan ikan yang lincah.
Menurut Prihartono dkk (2000), dalam pembenihan ikan lele sangkuriang, induk merupakan sarana produksi paling penting. Oleh karena itu, agar hasil pembenihan memuaskan, induk yang digunakan harus unggul. Untuk mendapatkan induk yang unggul, perlu dilakukan pemeliharaan induk secara khusus. Selama pemeliharaan padat tebar induk perlu diperhatikan karena akan berpengaruh pada pertumbuhan dan tingkat stress ikan. Induk ikan lele sangkuriang dipelihara dalam kolam atau bak berukuran (3×4) m2 dengan padat tebar 5 kg/m2.
b.      Pemijahan
Seleksi induk lele sangkuriang dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh ikan. Umur induk betina lele sangkuriang siap dipijahkan berumur > 1 tahun, massa (0,7 – 1) kg dengan panjang standar (25 – 30) cm, sedangkan induk jantan antara lain yaitu berumur > 1 tahun, massa (0,5 – 0,75) kg, dengan panjang standar (30 – 35) cm. Induk betina yang sudah matang gonad, secara fisik ditandai dengan perut yang membesar dan lembek, tonjolan alat kelamin membulat dengan warna merah keungu-unguan dan tampak membesar, bila dilihat secara kasat mata warna telur terlihat hijau tua bening atau coklat kehijau-hijauan, tulang kepala agak meruncing, gerakannya lamban.
Sedangkan induk jantan ditandai dengan warna tubuh yang lebih mencolok dari betina yaitu terlihat kemerah-merahan pada bagian sirip punggung (dorsal), dengan bentuk genital yang meruncing dan memanjang melebihi ujung sirip anal yang letaknya berdekatan dengan anus, tulang kepala lebih mendatar (pipih) dibanding induk betina, perut tetap ramping dan gerakannya yang lincah. Jika diurut secara perlahan pada bagian kelaminnya, akan mengeluarkan cairan putih susu yang kental, cairan itulah yang dinamakan sperma.
CIri





              




Gambar 3. Ciri indukan ikan lele jantan dan betina
Menurut Suyanto (1999), lele sangkuriang mulai dapat dijadikan induk pada umur (8 – 9) bulan dengan massa minimal 500 gram. Telur akan menetas dalam tempo 24 jam setelah memijah dengan kemampuan memijah sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Menurut Prihartono, dkk (2000), tanda-tanda induk jantan yang telah siap memijah diantaranya alat kelamin tampak jelas (meruncing), perutnya tampak ramping, jika perut diurut akan keluar spermanya, tulang kepala agak mendatar dibanding dengan betinanya, jika warna dasar badannya hitam (gelap), warna itu menjadi lebih gelap lagi dari biasanya. Sedangkan untuk induk betina alat kelaminnya bentuknya bulat dan kemerahan, lubangnya agak membesar, tulang kepala agak cembung, gerakannya lamban, warna badannya lebih cerah dari biasanya.
Pemijahan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding).
1.  Pemijahan Alami
    Dalam teknik pemijahan ini induk betina yang telurnya sudah terlihat matang yang ditandai dengan perut buncit, biasanya lele betina mempunyai berat diatas 1kg lebih dan berusia diatas 1 tahun. Sedangkan untuk jantan biasanya menggunakan minimal yang setara berat dan besarnya dengan betina, malah lebih bagus lagi kalau jantan lebih besar sedikit dari betina. Untuk perbandingan pemijahan 1:1 ( Jantan 1 betina 1) dalam satu media pemijahan.
Media yang kita sediakan:
·         Bak beton atau bak terpal yang berukuran 1x2x1 m atau disesuaikan dengan lahan yang ada
·         Keringkan selama 2-4 hari
·         Isi air setinggi 30 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan
·         Disediakan kakaban Injuk/serutan tali rapia
·         Masukkan ijuk secukupnya
·         Masukkan 1 ekor induk betina yang sudah matang gonad pada siang atau sore hari
·         Masukkan pula 1 ekor induk jantan
·         Biarkan memijah
·         Esok harinya tangkap kedua induk dan biarkan telur menetas di tempat itu.
Hasil pemijahan alami lele sangkuriang biasanya kurang memuaskan. Jumlah telur yang keluar tidak banyak.
2.  Pemijahan Semi alami
Untuk pemijahan semi alami hanya sedikit perbedaan yang harus diperhatikan, yaitu dalam hal pemberian rangsangan dengan penyuntikan obat perangsang ovaprim pada betina dengan dosis 0,2 ml/kg bobot tubuh ikan atau hipofisa ikan lele, juga penyuntikan setengah dosis pada jantan. Adapun mengenai persiapan bak dan kakaban sama persis dengan pemijahan alami.
·         Perbandingan induk jantan dan betina 1:1 baik jumlah maupun berat
·         Penyuntikkan langkahnya sama dengan pemijahan buatan
·         Pemijahan langkahnya sama dengan pemijahan alami

3.  Pemijahan buatan
Pemijahan buatan memerlukan keahlian khusus. Dua langkah kerja yang harus dilakukan dalam sistem ini adalah penyuntikkan, pengambilan sperma dan pengeluaran telur.
·         Penyuntikkan dengan ovaprim
Penyuntikkan adalah kegiatan memasukkan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang digunakan adalah ovaprim. Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,3 mil ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikkan ke dalam tubuh induk tersebut; masukkan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 jam.
















 










Gambar 4. Cara penyuntikan dengan ovaprim    Gambar 5. ovaprim
·         Penyuntikkan dengan hypofisa
Penyuntikkan bisa juga dengan ekstrak kelenjar hypofisa ikan mas atau lele dumbo. Caranya siapkan induk betina yang sudah matang gonad ; siapkan 1,5 kg ikan mas ukuran 0,5 kg; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutup insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat dibawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypofisa; masukkan ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukkan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypofisa itu; suntikkan ke dalam tubuh induk betina; masukkan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selama 10 jam.







 








Gambar 6. Cara penyuntikan dengan hipofisa
·         Pengambilan Sperma







Gambar 7. Cara pengambilan sperma pada ikan lele jantan
Setengah jam sebelum pengeluaran tleur; sperma harus disiapkan. Caranya:
1.      Tangkap induk jantan yang sudah matang kelamin
2.      Potong secara vertikal tepat di belakang tutup insang
3.      Keluarkan darahnya
4.      Gunting kulit perutnya mulai dari anus hingga belakang insang
5.      Buang organ lain di dalam perut
6.      Ambil kantung sperma
7.      Bersihkan kantung sperma dengan tisu hingga kering
8.      Hancurkan kantung sperma dangan cara menggunting bagian yang paling banyak
9.      Peras spermanya agar keluar dan masukkan ke dalam cangkir yang telah diisi 50 ml (setengah gelas) aquabides
10.  Aduk hingga homogen.
·         Pengeluaran Telur













 








Gambar 8. Cara pengeluaran telur pada       Gambar 9. Telur ikan lele
ikan lele betina
Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 jam dari peyuntikkan, namun 9 jam sebelumnya diadakan pengecekkan.
Cara pengeluaran telur:
1.      Siapkan 3 buah baskom plastik, 1 botol Natrium Chlorida (infus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu
2.      Tangkap induk dengan sekup net
3.      Keringkan tubuh induk dengan lap
4.      Bungkus induk dengan lap dan biarkan lubang telur terbuka
5.      Pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya
6.      Pijit bagian perut ke arah lubang telur
7.      Tampung telur dalam baskom plastic
8.      Campurkan larutan sperma ke dalam telur
9.      Aduk hingga rata dengan bulu ayam
10.  Tambahkan Natrium Chlorida dan aduk hingga rata
11.  Buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah
12.  Telus siap ditetaskan.
·         Penetasan
Penetasan lele sangkuriang dimasukkan ke dalam bak tembok. Caranya :
1.      Siapkan sebuah bak tembok ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 0,4 m
2.      Keringkan selama 2-4 hari
3.      Isi bak tersebut dengan air setinggi 30 cm dan biarkan air mengalir selama penetasan
4.      Pasang hapa halus yang ukurannya sama dengan bak
5.      Beri pemberat agar hapa tenggelam (misalnya kawat behel yang diberi selang atau apa saja
6.      Tebarkan telur hingga merata ke seluruh permukaan hapa
7.      Biarkan telur menetas dalam 2-3 hari.
Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir untuk menjamin ketersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi. Peningkatan oksigen terlarut dapat pula diupayakan dengan pemberian aerasi.
Telur lele sangkuriang menetas 30-36 jam setelah pembuahan pada suhu 22-25 0C. Larva lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang akan diserap sebagai sumber makanan bagi larva sehingga tidak perlu diberi pakan. Penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hapa penetasan. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva berumur 4-5 hari atau ketika larva sudah dapat berenang dan berwarna hitam.

c.       Pendederan
Pada fase ini pembudidaya bisa menggunakan kolam tanah, bak terpal, bak beton ataupun aquarium. Pendederan menggunakan media kolam haruslah didahului dengan adanya persiapan kolam yaitu kolam harus melalui pemupukan dan pengapuran dengan dosis untuk pupuk kandang 250gram/M2 dan kapur 50sd100gram / M2. Dengan ketinggian air 30-35cm.kolam yang telah melalui pemupukan dan pengapuran diendapkan selama 4-7hari dan larva siap ditebar. Sedangkan untuk media yang menggunakan bak Terfal ataupun bak beton untuk persiapan kolam haruslah menggunakan pupuk probiotik atau pupuk buatan dengan menggunakan ragi dan dedek.
d.  Pembesaran
  Dalam budidaya lele pembesaran biasa ukuran lele masa tebar adalah kisaran 7-8cm dengan lama pemanenan 40-45 hari dengan standar ukuran panen 12-15 cm melalui proses seleksi ukuran. Setelah panen ukuran 12-15 cm maka budidaya dilanjutkan dengan pembesaran kedua pembesaran dengan masa panen 25-30 hari dengan ukuran masa panen 1kg isi 7-10 ekor per kilo gram. Pada masa tebar calon pembesaran untuk padat tebar benih 150-200 ekor/M2.

e.  Program Pemberian Pakan
  Untuk pemberian pakan pada lele tidak jauh beda dengan pemberian pakan pada ikan ikan lain yaitu untuk penggunaan pelet haruslah disesuaikan dengan usia dan besaran mulut lele itu sendiri. Sebagai contoh Bila lele berukuran dengan panjang 7-8 cm maka pakan yang diberikan haruslah pelet butiran apung berukuran 3mm. Kita sebagi pembudidaya haruslah pandai mencari atau membuat pakan alternative yang nan tinya bisa membantu terhadap penekanan pembiayan pakan,salah satu pakan alternative yang bisa didapat diantaranya: Bangkai ayam, telur ayam yang tidak jadi netas, ikan asin BS atau tidak terpakai, belatung kotoran ayam, sosis BS, roti BS, sisa makanan dari restoran dan lain-lain.


2.6.      Penggunaan pakan yang tepat untuk efisiensi biaya produksi budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)

Peranan pakan dalam budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) yaitu terdiri dari : peran biologis (kehidupan dan pertumbuhan), ekonomis (50-70% dari biaya produksi total dan perlu adanya peningkatan efisiensi usaha atau manajemen pemberian pakan yang tepat.

Pertimbangan dalam menyiapkan pakan harus memiliki kriteria sebagai berikut :
·         Jenis/golongan ikan yang akan diproduksi(herbivor, omnivor, carnivor)
·         Ukuran ikan yang dipelihara (benih, pembesaran, induk)
·         Target produksi pakan yang diinginkan
·         Inventerisir ketersediaan bahan baku
·         Menyusun/menghitung formulasi
·         Metode pemprosesan/pencetakan pakan (pellet, remah, flake, tepung, pasta, dll)
·         Pengemasan dan penyimpanan
Penggunaan atau pemberian pakan yang tepat harus memenuhi beberapa diantaranya usaha yang berkelanjutan atau lestari, lingkungan yang sehat dan menguntungkan. Pakan ikan juga harus memenuhi standar yang telah ditentukan yaitu memiliki :
a.       Kualitas dan kuantitas pakan yang baik dilihat dari nilai gizi nya (protein, lemak, vitamin dan mineral). Mudah dicerna, menarik da beraroma/disukai ikan, ukuran sesuai dengan bukaan mulut ikan, stabil dalam air(tidak cepat hancur), tidak mencemari air (ramah lingkungan), aman bagi kesehatan ikan (tidak beracun), memberikan tingkat pertumbuhan, secara ekonomis menguntungkan sehingga dapat menjamin kelangsungan usaha budidaya. Kualitas tidak baik seperti debu tinggi, warna keputihan/berjamur, mudah hancur didalam air dan aroma tidak baik.
b.      Bahan baku pakan seperti ukuran partikel (kecernaan, daya rekat), sumber bahan baku, serta menyiapkan/proses pembuatan. Cara dan lama penyimpanan seperti (suhu, kelembaban, hindari kontak langsung ke lantai atau dinding, serangga/binatang lain).
c.       Tipe pakan terbagi menjadi dua yaitu tenggelam dan terapung yang keduanya menentukan tinggi rendahnya tingkat terkonsumsi oleh ikan. Tipe terapung memiliki ciri-ciri seperti jumlah yang tidak terkonsumsi lebih rendah, tidak mudah hancur didalam air (24 jam masih tersisa 84%, tenggelam 50%), menurunkan pencemaran lingkungan, menyebar luas atau merata, dan kecernaan relatif lebih tinggi.
d.      Frekuensi pemberian pakan akan menentukan limbah yang dihasilkan serta memiliki nilai konversi/efesiensi pakan. Dan harus diusahakan menurunkan limbah yang dihasilkan dan menaikkan efesiensi pakan.
Penggunaan plankton catalyst 2006 untuk meningkatkan kesuburan tambak/kolam (nutrisi tambak/kolam), meningkatkan kualitas air dan katalisator untuk pertumbuhan dan perkembangan pakan alami ikan.

Fungsi plankton catalyst 2006


 





KUALITAS AIR
Ph, O2, air, salinitas
 
                                                                                                                 Ikan/Udang








Plankton catalyst mensuplai unsure hara lengkap (makro & mikro) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan pakan alami & kualitas air yang baik
 
 








Keunggulan plankton catalyst 2006 yaitu meningkatkan produksi pakan alami (pakan alami- makanan terbaik bagi pertumbuhan ikan), dapat mengurangi pemberian pakan buatan (sisa pakan buatan yang busuk mencemari & menurunkan kualitas air), meningkatkan kualitas kolam (didukung dengan kandungan unsur lengkap & baik) dan dapat mempercepat waktu panen (ikan tumbuh optimal, didukung oleh melimpahnya pakan alami dan kualitas air kolam yang ideal).

Cara budidaya dengan plakton catalyst terlebih dahulu lumpur busuk/hitam dikeluarkan, tambak dibersihkan dari musuh alami dan dikeringkan dan aplikasi plankton catalyst. Penggunaannya dengan memeriksa media awal tambak/kolam sehingga cocok dengan syarat hidup komoditas yang dibudidayakan, manajemen tambak berwawasan lingkungan, menjaga kualitas air (kecerahan, ph, salinitas, suhu, kedalaman pada nilai normal). Penggunaan plankton catalyst 2006 disesuaikan dengan kondisi air (perlunya pemeriksaan air)
Takaran pakai plankton catalyst 2006

A.    Aplikasi sebagai pupuk dasar (sebelum/saat kolam diisi air dangkal)

     Bandeng                          udang (windu)                                ikan air tawar
(10-15 kg/ha)      (berdasar ph awal 5-10 kg/ha)     (15-20 kg/ha = 2-10 g/m2)

B.     Aplikasi percik (setelah kolam diisi ikan)





Bandeng : 0.25 kg/ha tiap minggu
 


Ikan air tawar : 0.25-1 kg/ha tiap 5 hari (atau 30 g campur 4 kg pakan
 


Udang windu : berdasarkan pemeriksaan ph air
Ph < 5.5 pemakaian 5 kg/ha
Ph 5.5-6.5 pemakaian 3-4 g/ha
Ph 6.5-7 pemakaian 2-3 kg/ha
 
 










2.7.   Manajemen kesehatan ikan dan lingkungan
Kesehatan ikan lele sangatlah menentukan terhadap keberhasilan budidaya, untuk itu kita sebagai pembudidaya haruslah tekun mengamati respon makan dan gerakan ikan bila terjadi ada kelainan haruslah tanggap dengan solusi penggobatan yang tepat seperti contoh bila lele terkena whitespot upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan penebaran garam atau menaikan suhu air dengan cara menghindarkan kolm dari  air yang masuk atau dengan penambahan pupuk kandang supaya plangton yang tumbuh bisa membantu terhadap kenaikan suhu. Jenis penyakit lain yang biasa terjadi pada lele diantaranya Trichodina sp ditandai kumis kriting pada lele pengendaliannya dengan Metheline Blue+Nacl atau garam 500-1000 ppm Untuk lebih tepatnya bila kita melakukan budidaya pencegahan penyakitlah yang paling efektif dan efisien dibanding kita mengobati sepertihalnya penggunaan pemberian vitamin C yang telah tercampur dengan pelet atau penggunaan bawang putih yang juga telah tercampur dengan pelet.
Kegiatan budidaya lele sangkuriang di tingkat pembenih/pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembenihan, penyakit banyak ditimbulkan oleh adanya serangan organisme pathogen sedangkan pada kegiatan pembesaran, penyakit biasanya terjadi akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan. Kegagalan pada kegiatan pembenihan ikan lele dapat diakibatkan oleh serangan organisme predator (hama) ataupun organisme pathogen (penyakit). Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain insekta, ular, atau belut. Serangan lebih banyak terjadi bila pendederan benih dilakukan di kolam tanah dengan menggunakan pupuk kandang. Sedangkan organisme pathogen yang lebih sering menyerang adalah Ichthiopthirius sp, Trichodina sp, Dacttylogyrus sp, dan Aeromonas hydrophyla.
Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan kolam di sekeliling kolam. Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan manajemen lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Bila serangan sudah terjadi,benih harus dipanen untuk diobati. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.
Manajemen lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam dan tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disinfeksi (bila diperlukan), pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan probiotik.

2.8.   Penyakit pada ikan lele (Clarias sp.)

Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang ikan lele bisa disebabkan oleh bakteri, parasit atau bahkan cacing. Penyakit – penyakit yang sering dijumpai oleh para peternak ikan lele adalah cendawan, bintik putih, borok, cacingan serta trichodina.
Untuk terhindar dari kerugian besar, para petani ikan lele harus dapat mengendalikan penyakit – penyakit tersebut diatas dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab dari penyakit tersebut serta gejala yang muncul sebelum pada akhirnya nanti mengetahui bagaimana caranya untuk menanggulanginya.
a.      Cendawan
1.      Jenis yang dapat menyerang adalah saprolegnia dan achyla, dimana mereka sering dijumpai di perairan yang kaya akan bahan organik.
2.      Penyakit ini menyerang ikan lele yang sudah teruka atau yang sedang berada dalam kondisi lemah.
3.      Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah bahwa pada sekitar lukanya banyak dijumpai serabut berwarna putih.
4.      Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah : kepadatan tebar dikurangi dan air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 5 gram / m2.
5.      Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah : Merendam ikan lele yang sakit ke dalam air PK berdosis 1 gram / 100 liter air. Proses perendaman dilakukan selama 30 menit. Jamur dapat dihilangkan dengan menggunakan obat Furazolin.
b.      Bintik putih
1.      Penyebab dari munculnya penyakit ini adalah ichthyophthirius multifiliis dimana mereka akan menyerang ikan lele yang dipelihara didalam kolam yang airnya menggenang.
2.      Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah bahwa pada permukaan kulit dan juga insang ikan lele banyak dijumpai bintik – bintik berwarna putih yang apabila dibiarkan terlalu lama, kulit dan insang ini akan rusak sebelum pada akhirnya nanti ikan lele akan mati dalam hitungan jam.
3.      Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah : Memperbaiki sistem sanitasi, air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 30 gram / liter air, sebanyak 2 – 3 kali berturut – turut, penggunaan malachyte green berdosis 0,1 gram / m2 sebanyak 2 hari sekali hingga ikan lele sembuh.
c.       Borok
1.      Merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh para peternak ikan lele dikarenakan dapat menyebabkan kematian massal.
2.      Penyebab dari munculnya penyakit ini adalah aeromonas dan pseudomonas dimana mereka meenyerang organ dalam ikan lele, seperti hati, limpa serta daging.
3.      Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah munculnya borok diseluruh permukaan kulit ikan lelel. Borok ini akan mengeluarkan nanah jikan penyakit ini memarah.
4.      Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah : Mengkarantinakan ikan lele yang sakit dan pemberian antibiotik pada ikan lele yang masih sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Antibiotik ini dapat diberikan dengan cara dicampurkan ke dalam pakan ikan lele dengan dosis antibiotiknya adalah sebesar 1 mg / kg pakan. Selain itu air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 10 kilogram yang telah dicampur dengan tumbukan daun pepaya.
d.      Cacingan
1.      Jenis yang dapat menyerang adalah dactylogyrus dan gyrodactylus, dimana mereka sering dijumpai dikolam yang kepadatan tebarnya terlalu tinggi serta baru saja mengalami perubahan lingkungan hidup yang drastis dan mendadak. Mereka sering menyerang bagian insang ikan lele (akan menyebabkan kesulitan dalam hal bernafas) serta kulitnya (menjadi berlendir).
2.      Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah menurunnya nafsu makan serta ikan lele sering berenang ke atas permukaan air. Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah : Mengganti air dalam jumlah yang besar, air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 40 gram / m2, merendam ikan lele yang sakit ke dalam air PK berkonsentrasi 0,01 % selama 30 menit.
e.       Trichodina
Penyakit ini disebabkan oleh protozoa, dimana mereka menyerang bagian insang dari ikan lele. Ikan yang terserang oleh penyakit ini akan berputar – putar dan muncul diatas permukaan air. Tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah merendam ikan lele yang sakit ke dalam air berformalin berkonsentrasi 15 – 20 ppm.

2.9.   Analisa usaha ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)

Dengan asumsi produksi lele konsumsi sebanyak 140 kg. (dari 1000 ekor benih ukuran 5-7 cm). Tengkulak datang sendiri membeli Rp.11.000,- per kilogramnya (diluar jawa harga per kg nya sampai Rp.20.000,-). Usaha ini dilakukan sendiri selama + 3 bulan.
a.       Biaya Investasi
Pembuatan 1 unit kolam terpal ukuran 2×3 m : Rp.500.000,-
b.      Biaya produksi
·         Pengadaan benih 1000 ekor @ Rp.150,-  :   Rp. 150.000,
·         Pakan dan obat-obatan :
3 kg pelet L1  @ Rp.7.500,-                      :    Rp. 22.500,-
5 kg pelet L2 @ Rp.7.000,-                       :    Rp. 35.000,-
22 kg pelet L3  @ Rp.6.700,-                    :   Rp. 147.400,-
70 kg pelet tenggelam SNL @ Rp.5.400,- :   Rp. 378.000,-
Obat-obatan : Rp. 50.000,-

Biaya penyusutan kolam   (10) : Rp. 50.000,
Total Biaya Produksi :   Rp. 832.900,-
c.       Pendapatan
Pendapatan   :  Total produksi X harga lele per Kg.
140 kg  X  Rp.11.000,- = Rp.1.540.000,- per kg.
d.      Keuntungan
Keuntungan   :  Pendapatan - total biaya produksi
Rp.1.540.000,-  - Rp.832.900,- = Rp.707.100,-

e.       Break Even Point :  Total biaya produksi/Total Produksi
(BEP Harga)   : Rp.832.900,- / 140 kg = Rp.Rp.5.949,- per kg
Penjualan lele sangkuriang ukuran konsumsi tidak akan mengalami kerugian maupun keuntungan jika dijual dengan harga Rp.5.949,-
f.       Revenue Cost (R/C) Ratio
R/C Ratio      :  Total pendapatan / total biaya produksi
Rp. 1.540.000,- / Rp.832.900,- = Rp.1,85,-
Artinya setiap penambahan biaya Rp.1000,- akan memperoleh penerimaan sebesar Rp.1.850,- . Dengan melihat angka R/C ratio ini dapat disimpulkan bahwa usaha pembesaran lele sangkuriang yang dilakukan layak untuk diteruskan.
   Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya






BAB III
KEGIATAN MAGANG KEPADA KELOMPOK MINATANI (Ibu Suryanah) BUDIDAYA IKAN LELE
 SANGKURIANG (Clarias sp.)

            Pembelajaran persyaratan lokasi / dasar kolam
Syarat lokasi lahan budidaya ikan lele terletak didasar kolam. Banyak diantara beberapa orang yang terkadang menyepelekan mengenai persyaratan dasar kolam yang harus dipenuhi dalam kegiatan budidaya perikanan, sehingga tidak heran mereka terkadang mengalami kerugian. Apabila kita ingin melakukan kegiatan budidaya perikanan. Hal yang paling mendasar yaitu bagaimana syarat lahan lokasi atau dasar kolam untuk budidaya tersebut. Sama halnya dengan ikan lele (Clarias sp.) apabila ingin dibudidayakan.
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi antara lain :
a.       Ukuran kolam bebas tergantung padat tebar benih ikan yang ingin ditebar selama proses pembesaran ikan
b.      Dasar kolam memiliki parit diagonal yang berukuran 10 m dengan kemiringan yang disesuaikan
c.       Pada sudut atau ujung kolam terdapat lubang berukuran 1 m x 1 m dengan kedalaman sekitar 30 cm. Fungsinya untuk memudahkan saat pemanenan ikan, karena lubang tersebut menjadi tempat berkumpulnya ikan saat proses pemanenan ketika air yang berada dikolam disedot. Sehingga memudahkan dalam pengambilan atau penyerokan ikan.


d.      Ketinggian lumpur sekitar 10 cm atau sebatas mata kaki.
Kolam pembesaran yang baik harus memiliki kriteria tertentu. Yang terpenting adalah aman dari kemungkinan serangan hama sehingga perlu dilengkapi pagar. Selain itu, kondisi kolam harus baik dan tidak bocor serta dapat menampung air setinggi 100cm. Artinya, untuk bisa menahan massa air setinggi itu, kolam harus memiliki tanggul yang tinggi dan kokoh sehingga tidak mudah ambrok. Untuk kegiatan pembesaran lele sangkuriang, tidak ada standar luas kolam. Luas kolam dapat disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Untuk daerah yang memiliki lahan sempit seperti perkotaan pemanfaatan saluran air dan comberan dibelakang rumah pun memungkinkan. Namun selama memiliki lahan yang baik seyognya hal itu dilaksanakan. Penebaran benih dilakukan setalah 4-5 hari setelah pemupukan.







 










Gambar 10. Pembelajaran dasar kolam






 










Gambar 11. Parit dan lubang didasar kolam










 








Gambar 12. Pemberian kapur kedasar kolam

            Kegiatan pemberian pakan
Pada saat kami magang setiap pagi hari pukul 07.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB. Kami melakukan kegiatan pemberian pakan kepada ikan-ikan lele yang berada di kolam pembesaran. Pakan yang biasanya digunakan yaitu pelet sebelum ukuran ikan mencapai size 30 ekor/kg. Apabila ukuran ikan lele sudah lebih dari size 30 ekor/kg maka diberi pakan tambahan seperti CCM (Jeroan ayam), sosis BS, roti BS, dan sisa makanan dari restoran.
Nama kolam
Banyaknya pakan tiap kolam
B. 4
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
B. 5
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
B. 6
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
B. 7
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
B. 8
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 1
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 2
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 4
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 5
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 6
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 8
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 10
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 11
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 12
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 14
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 17
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 18
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 9
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 16
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
C. 19
3 gayung isi pelet/1 karung plastik pakan tambahan
Tabel 2. Aturan pemberian pakan













 




                                                                                                                       




Gambar 13. Proses penggilingan CCM (jeroan ayam)











 









Gambar 14. Pemberian pakan

            Kegiatan pemanenen ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
Kegitan pemanenan yang kami lakukan ikan lele tersebut sudah siap panen berumur > 40 hari dari awal masa pembesaran. Atau sudah berukuran 100- 150 gram per ekor Hasil yang didapat dari masing-masing kolam berbeda disebabkan oleh padat tebar benih yang disebar ketika saat pembesaran dan luas kolam area pembesaran. Ada beberapa cara pemanenan yang dapat dilakukan yaitu :
1.      menjaring ikan lalu mengeringkan kolam
2.      mengeringkan seluruh air kolam dengan membuka saluran kolam.
Setelah pemanenan selesai yaitu ketika ikan lele telah diangkut dari kolam pembesaran sebaiknya ditampung sementara di bak penampungan yang airnya mengalir supaya kotorannya terbuang . kemudian ikan disortir / diseleksi sesuai ukuran yaitu pemilihan ikan-ikan lele yang memenuhi standar dan kualitas ikan lele yang ingin dijual sesuai permintaan pembeli. Hasil yang didapatkan secara bersih yaitu sekitar 3 kwintal dari satu kolam yang sebelumnya benih yang ditebar sebanyak 100 ekor ikan lele (Clarias sp.) size 5-7 cm. Selanjutnya hasil yang didapat akan dijual kepada tengkulak yang sudah datang ketempat lokasi kami memanen ikan lele (Clarias sp.)






 










Gambar 15 a. Proses pemanenan ikan lele (Clarias sp.)






















 











Gambar 15 b. Proses pemanenan ikan lele (Clarias sp.)









 






Gambar 16 a. Proses penyortiran ikan lele (Clarias sp.)









 






Gambar 16 b. Proses penyortiran ikan lele (Clarias sp.)















 














Gambar 17. Proses penimbangan ikan lele (Clarias sp.)

            Analisa usaha budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
Analisis usaha budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) yang dilakukan oleh Ibu Suryanah yaitu Dengan asumsi produksi lele konsumsi sebanyak 200 kg. (dari 100 ekor benih ukuran 5-7 cm). Tengkulak datang sendiri membeli Rp.11.000,- per kilogramnya. Usaha ini sudah dilakukan dilakukan sendiri selama 3 tahun.

a.       Biaya produksi
·         Pengadaan benih 1 kwintal (size 11-12 cm)      : Rp. 1.000.000,-
·         Pakan 781 sebanyak 1,5 kwintal                        : Rp. 350.000,-
·         Obat-obatan                                                       : Rp. 50.000,-
·         Biaya operasional                                               : Rp. 30.000,-
·         Biaya penyusutan dll                                         : Rp. 50.000,-

Total Biaya Produksi                                         : Rp.1.480.000,-
b.      Pendapatan
Pendapatan   :  Total produksi X harga lele per Kg.
200 kg  X  Rp.7.500,- = Rp.2.200.000,- per kg.
c.       Keuntungan
Keuntungan   :  Pendapatan - total biaya produksi
Rp.2.200.000,- – Rp.1.480.000,- = Rp. 720.000,-
d.      Break even point (BEP)
Total biaya produksi/Total Produksi
(BEP Harga)   : Rp.1.480.000,- / 200 kg = Rp. 7.400,- per kg
Penjualan lele sangkuriang ukuran konsumsi tidak akan mengalami kerugian maupun keuntungan jika dijual dengan harga Rp. 7.400,-
e.       Revenue Cost (R/C) Ratio
      R/C Ratio      :  Total pendapatan / total biaya produksi
Rp. 2.200.000.- / Rp.1.480.000 = Rp.1,48,-
Artinya setiap penambahan biaya Rp.1000,- akan memperoleh penerimaan sebesar Rp.1.480,- . Dengan melihat angka R/C ratio ini dapat disimpulkan bahwa usaha pembesaran lele sangkuriang yang dilakukan layak untuk diteruskan.

Materi dan praktek teknik pemijahan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)
Pada agenda kegiatan selanjutnya kami melakukan proses tekhnik pemijahan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) Metode pemijahan yang digunakan di kelompok minatani Jayanti Kab. Tangerang yaitu metode pemijahan secara buatan (Induced Breeding). Sebelum melakukan proses pemijahan, terlebih dahulu menyiapkan lokasi area untuk pemijahan ikan lele dengan cara membersihkan bak dan mengisi bak tersebut dengan air tandon atau air yang terlebih dahulu telah diendapkan selama 1 hari setinggi 50 cm serta masukkan kakaban atau ijuk kedalam bak tersebut yang berfungsi sebagai tempat keluar nya telur-telur ikan lele.
Setelah persiapan tempat pemijahan selesai lakukan penyortiran atau pemilihan indukan yang tepat untuk siap kawin dengan terlebih dahulu melakukan proses pengambilan indukan ikan lele jantan dan betina di kolamnya masing-masing. Kemudian indukan tersebut dimasukkan kedalam masing-masing bak. Setelah itu lakukan pemeriksaan pada induk ikan lele betina dengan cara memeriksa gonadnya yang sudah matang melalui pengambilan telur. Menurut Anonimus (2005) ovulasi adalah puncak dari kematangan gonad, dimana telur yang telah masak harus dikeluarkan dengan cara dipijit pada bagian perut.

Prosedur Pemijahan
ALUR
KEGIATAN
Flowchart: Alternate Process: Induk siap pijah                                                                         Hasil proses pemeliharaan


 


                                                         Hormon Artifisial (Ovaprim)


 

Flowchart: Alternate Process: Penyuntikan                                                        
Induk Jantan dan Induk Betina

Flowchart: Alternate Process: Ovulasi                                                         Pencampuran sel sperma dan sel telur
                                                        
Flowchart: Alternate Process: Pembuahan telur                                                        
Pemijahan                               
                                                        


Flowchart: Alternate Process: Penetasan telur
 

                                                                        Hasil kegiatan pembelajaran




 


Hasil kegiatan pembelajaran

Gambar 18. Diagram alur prosedur pemijahan
 












Gambar 19. Persiapan bak untuk tempat pemijahan ikan lele (Clarias sp.)










 






Gambar 20. Pencucian dan penjemuran kakaban/ijuk untuk tempat telur menetas













 






Gambar 21. Pengisian air tandon kedalam bak pemijahan dan didiamkan selama 1 hari











 










Gambar 22. Pengambilan induk ikan lele betina






 





Gambar 23. Pengambilan induk ikan lele jantan








 






Gambar 24. Indukan ikan lele betina






 











Gambar 25. Indukan ikan lele jantan












 











Gambar 26. Proses pemeriksaan gonad ikan lele betina dengan cara pengambilan telur









 





Gambar 27. Telur ikan lele betina siap pijah

Setelah dilakukan pengambilan indukan ikan lele jantan dan betina serta pengecekan kondisinya lalu didiamkan atau diberok/puasakan selama + 7 jam sebelum ikan mengalami proses perkawinan . Setelah proses pemberokan selesai lakukan perhitungan untuk penyuntikan ikan lele dengan ovaprim (hormon perangsang) dengan cara total berat ikan lele jantan 6 ekor dan ikan lele betina 8 ekor adalah 16,5 kg. Takaran atau dosis untuk penyuntikan adalah ovaprim sebanyak 0,2 ml/kg + 0,5 ml NHCL/aquades.
Perhitungannya dengan cara :
Ovaprim 0,2 x (kg ikan)
0,2 x 16,5 kg = 3,3 ml.
NHCL 0,5 x (ekor ikan)
0,5 x 14 ekor ikan lele = 7 ml.
Kemudian hasil dari perhitungan ovaprim dan NHCL dijumlahkan atau ditambahkan yaitu 3,3 ml ovaprim + 7 ml NHCL = 10,3 ml + 14 ekor ikan lele = 0,7 ml. Setelah itu diaduk rata dan diisikan ketempat suntikan masing-masing 0,7 ml untuk disuntikan ke induk ikan lele jantan dan betina.
Dilakukan penyuntikan yaitu bertujuan untuk mempercepat proses ovulasi pada induk betina dan jantan. Persyaratan agar penyuntikan dengan hormon dapat efektif maka induk ikan lele harus sudah mengandung telur yang siap untuk memijah (matang telur). Apabila kondisi induk tidak matang gonad, tentu injeksi hormon yang dilakukan tidak akan efektif (tidak berhasil).



Cara menyuntik
·         Tangkap induk lele dengan menggunakan seser induk. Kemudian seorang membantu memegang induk lele yang hendak disuntik (ikan betina terlebih dahulu) dengan menggunakan kain untuk menutup dan memegang kepala ikan dan memegang pangkal ekornya.
·         Kemudian suntikkan hormon yang sudah disiapkan tadi ke dalam daging lele di bagian punggung, setengah dosis di sebelah kiri dan setengah dosis disebelah kanan dengan kemiringan jarum sunik 40 – 45ยบ. Kedalaman jarum suntik ± 1 cm dan disesuaikan dengan besar kecilnya tubuh ikan.
·         Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah obat didorong masuk, jarum dicabut lalu bekas suntikkan ditekan/ditutup dangan jari telunjuk beberapa saat agar obat tidak keluar.













 






Gambar 28. Menyiapkan media untuk menyuntik induk ikan lele jantan dan betina










 





Gambar 29. Pengambilan induk ikan lele jantan dan betina untuk disuntik setelah didiamkan didalam bak






 





Gambar 30. Proses penyuntikan ikan lele betina






 





Gambar 30. Proses penyuntikan ikan lele jantan

Setelah dilakukan penyuntikan lalu indukan ikan lele tersebut dibawa ketempat lokasi pemijahan untuk dilakukan proses perkawinan. Lokasi tempat pemijahan telah dipersiapkan sehari sebelum dilakukan proses pekawinan. Pemijahan buatan menggunakan induk jantan 6 ekor dan induk betina sebanyak 8 ekor. dengan menggunakan bak sebayak 4 buah sebagai tempat untuk pemijahan.
Bak
Induk ikan lele jantan
Induk ikan lele betina
Jumlah
1
2 jantan
2 betina
4 ekor
2
2 jantan
3 betina
5 ekor
3
1 jantan
1 betina
2 ekor
4
1 jantan
1 betina
2 ekor
Tabel 3. Pengisian ikan lele ketempat bak pemijahan 
Pada pukul 17.00 WIB indukan ikan lele jantan dan betina dimasukkan kedalam bak. Dan proses perkawinan pun akan terjadi pada malam hari. Keesokan harinya sekitar pukul 07.00 WIB indukan betina telah mengeluarkan ribuan telu-telurnya yang akan menetas sekitar (30 – 36) jam setelah pembuahan pada suhu (23 – 24)0C. Dan telur-telur ikan lele pun telah menetas. Apabila telah melewati batas waktu telur tersebut belum menetas, maka telur tersebut dianggap gagal atau tidak terjadi proses pembuahan. Setelah itu angkat indukan ikan lele jantan dan betina dan didiamkan selama 1 hari pada kolam yang terpisah antara induk jantan dan betina sebulum dikembalikan ke kolam tempat indukan. Dilakukan pemisahan setelah mengalami pemijahan dibak terpisah, karena setelah proses perkawinan indukan ikan lele tersebut berbau amis dan apabila disatukan kedalam kolam indukan, indukan ikan lele yang telah mengalami proses perkawinan akan terancam dimangsa oleh indukan yang lainnya, maka dari itu dilakukan hal tersebut.



 











Gambar 31. Telur ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)






 






Gambar 32. Pengambilan telur ikan lele sangkuriang (Clarias sp.)








 







Gambar 33. Pengambilan indukan ikan lele sangkuriang di bak pemijahan

Pemeliharaan larva dalam happa dilakukan selama (4-5) hari tanpa diberi pakan, karena larva pada saat itu masih memanfaatkan kuning telur yang ada dalam tubuh larva itu sendiri. Memasuki hari ke-5 dan seterusnya kuning telur dalam tubuh larva telah habis, larva selanjutnya dipindahkan ke dalam bak fiber untuk dipelihara lebih lanjut. Larva dipelihara dalam bak fiber berukuran 4 m x 2 m x 0,8 m dan diisi air sebanyak 1/2 dari tinggi bak. Selama dalam pemeliharaan di dalam fiber, larva umur 5 hari diberi pakan cacing sutra (tubifex sp). Sebelum diberikan, cacing sutra tersebut dicincang terlebih dahulu. Hal itu dilakukan karena ukuran bukaan mulut ikan yang masih kecil. Pemberian cacing sutra cincang diberikan hingga larva berumur 12 hari. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 50 gr setiap kali pemberian pakan pada pagi dan sore hari.


Menurut Mujiman (2000), Pemberian pakan alami disesuaikan dengan ukuran benih. Setelah itu larva ikan lele dipindahkan ke pendederan 1 sampai berusia 12 hari dan masih diberi pakan cacing sutra utuh dengan jumlah pakan sebanyak 75 gr setiap kali pemberian pakan pada pagi dan sore hari. Kemudian ketika 12 hari masa pendederan 1 berakhir larva ikan lele kemudian dipindahkan ke pendederan 2 selama 15 hari pula dan pakan nya berupa penglinol per 3 jam. Selanjutnya setelah masa pendederan 2 berakhir selama 15 hari dipindahkan ke pendederan 3 waktu nya masih sama yaitu 15 hari dan diberi pakan pengli 1 PF 1000 per 3 jam. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup larva, maka lingkungan yang baik harus tetap terjaga.
No
Usia
Pendederan
Pakan
Banyaknya pemberian pakan
1
12
1
Cacing sutra
Pagi dan sore hari
2
15
2
Penglinol
Per 3 jam
3
15
3
Pengli 1 PF 1000
Per 3 jam
Tabel 4. Masa pendederan larva ikan lele (Clarias sp.)
Menurut Lukito (2002), dalam kegiatan pengontrolan kualitas air meliputi pergantian air dengan pengaturan volume air dan penyiponan. Pengelolaan kualitas air selama PKL, dilakukan dengan melakukan penyifonan bak pemeliharaan larva setiap pagi hari sebelum pemberian pakan dan penggantian air sebanyak 50%. Penyifonan dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa pakan dan kotoran yang terdapat di dasar bak pemeliharaan larva. Sedangkan untuk menambah oksigen terlarut dalam bak pemeliharaan larva, air dalam bak pemeliharaan diberikan aerasi secara terus menerus.


Selama pemeliharaan larva dalam bak fiber tidak memperlihatkan gejala-gejala bahwa ikan terserang hama penyakit. Jika dilihat dari gerakannya yang normal dan nafsu makan yang relatif tinggi menandakan kondisi ikan sehat dan normal. Meskipun kondisi ikan dalam kondisi yang baik, selama dalam pemeliharaan, larva ikan lele sangkuriang tetap diberikan perawatan sebagai upaya pengendalian hama penyakit untuk pencegahan. Menurut Lukito (2004), kegiatan pengendalian hama penyakit meliputi pencegahan dan pengobatan. Tindakan pencegahan yang dilakukan selama PKL yaitu dengan memberikan garam sebanyak 3 kg dalam 3,2 m3 air (1 ppt).
Panen larva yang telah berumur lebih dari 21 hari warna tubuhnya tampak kehitaman dan sudah menyebar dipermukaan air, hal ini menandakan bahwa larva siap dipanen untuk langsung dijual atau ditebar ke kolam pembesaran yang sudah disiapkan sebelumnya. Pemanenan larva didahului dengan menutup saluran pemasukan air dan membuka outlet. Kemudian pada pipa outlet dipasang seser halus untuk menampung benih. Menurut Prihartono dkk (2000), Selama kegiatan pemanenan perlu adanya perlakuan tertentu karena lele sangkuriang merupakan jenis ikan yang tidak bersisik, tetapi tubuhnya berlendir.
Oleh karena tidak bersisik maka tubuhnya sangat mudah mengalami lecet dan luka. Lecet atau luka pada lele sangkuriang dapat disebabkan oleh penggunaan peralatan yang sembarangan, cara panen yang kurang baik dan waktu panen yang kurang tepat. Panen larva ikan lele menggunakkan bak sortir dengan lubang berdiameter 1-2, 2-3, 4-5, 5-7, 7-8, 11-12. dan siap dipindahkan kekolam pembesaran yang telah dipersiapkan sebelumnya dan Penebaran benih dilakukan setalah 4-5 hari setelah pemupukan. Kondisi benih yang ditebarkan harus sehat serta ukuran sama besar atau panjang. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada saat suhu rendah yaitu pagi atau sore menjelang malam. Dan pemberian pakan ikan lele berukuran 30 cm pakan nya berupa pelet pagi dan sore hari. Setelah lebih dari ukuran 30 cm boleh diberi pakan tambahan berupa CCM dan lain-lain.

























BAB IV
PENUTUP


                                            Kesimpulan

Dari laporan magang mengenai budidaya ikan lele sangkuriang yang telah kami laksanakan di Desa Sumur bandung Kp. Saradan RT 015/002 Kec. Jayanti Kab. Tangerang. Selama 12 hari mulai dari tanggal 1 sampai tanggal 12 februari 2011 selama mengisi waktu liburan semester III dapat disimpulkan antara lain terdiri dari :

1.      Kelompok minatani merupakan kelompok pembudidaya ikan air tawar khususnya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) atau POKDAKAN yang berada diwilayah di Kab. Tangerang

2.      Tujuan pembuatan kelompok POKDAKAN tersebut supaya Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dapat mudah memperoleh data siapa saja yang mempunyai usaha tersebut dan juga untuk memudahkan setiap petani dalam memperoleh informasi tentang bagaimana cara budidaya yang baik dan benar serta hal-hal yang lain yang terkait dalam pelaksanaan budidaya ikan.

3.      Syarat lokasi atau lahan budidaya yaitu Dasar kolam memiliki parit diagonal yang berukuran 10 m dengan kemiringan yang disesuaikan

4.      Manajemen pemasaran yang ada pada kelompok Minatani yaitu setelah proses pemanenan tengkulak datang untuk membeli hasil panen ikan lele tersebut.

5.      Pakan yang biasanya digunakan kelompok Minatani yaitu pelet sebelum ukuran ikan mencapai size 30 ekor/kg. Apabila ukuran ikan lele sudah lebih dari size 30 ekor/kg maka diberi pakan tambahan seperti CCM (Jeroan ayam), sosis BS, roti BS, dan sisa makanan dari restoran.

6.       Analisis usaha budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) Tengkulak datang membeli Rp.11.000,- per kilogramnya.

7.      Teknik pemijahan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) yang digunakan di kelompok minatani yaitu metode pemijahan secara buatan (Induced Breeding).


                                            Saran
Dari kegiatan magang yang telah dilakukan oleh mahasiswa/i UNTIRTA mengenai budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) diharapkan dapat dijadikan salah satu pembelajaran praktek dalam mata kuliah budidaya perikanan.
























DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2007. Lele Sangkuriang. Poster Tentang Pelepasan Varietas  Ikan Lele Sebagai Varietas Unggul . Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Tawar, Ditjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Sukabumi.
(Diakses tanggal 1 Maret 2011)

J. Purwanto. 2000. Informasi Teknis Budidaya Ikan Lele. Departemen Pertanian
Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta
(Diakses tanggal 1 Maret 2011)

Nurhidayat, dkk. 2000. Rekayasa dalam peningkatan mutu ikan lele (Clarias sp.) . dalam laporan tinjauan hasil bagian proyek pengembangan teknik budidaya air tawar sukabumi. Balai budidaya air tawar Sukabumi. Sukabumi hal 53-61
(Diakses tanggal 1 Maret 2011)

Suryanah. 2009. Kiat sukses budidaya ikan lele (Clarias sp.) dan Materi pengarahan Ibu Suryanah. 2011. Tangerang

Warsino. Dahana, K.2009. Meraup Untung dari Beternak Lele Sangkuriang.Yogyakarta: Lily Publisher.
(Diakses tanggal 1 Maret 2011)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar